Thursday, 19 August 2010

Menyingkap Makna Ramadhan

Menyingkap Makna dan Hikmah Ramadhan

Oleh: Muhammad Zaini

Tidak terasa Ramadhan kembali tiba. Momentum penuh berkah yang tidak semua orang dapat menemuinya dengan penuh gembira dan menangkap maknanya. Keberkahan dan hikmah yang tersirat di dalamnya begitu melimpah ruah. Semua umat Islam, kaya dan miskin bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Beberapa Masjid dapat terlaksana berbagai ragam kegiatan ritual keagamaan, penuh sambutan hangat umat Islam dan antusias. Itu semua hanya dapat dijumpai dan terlihat pada bulan Ramadhan.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat Ramadhan begitu semarak dan bahkan sebagai ladang dan lahan subur tumbuhnya benih kebaikan dan keberkahan. Ia begitu “diistimewakan” dan “disucikan”. Apa yang bisa kita petik dari hikmah Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan dan Maknanya

Ditilik dari segi bahasa, Ramadhan dalam kamus bahasa Arab (lihat: kamus al-Munawwir) berasal dari bahasa Arab al-Ramadh yang artinya “panas batu akibat sinar matahari”. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan diambil dari akar kata ramidha yang berarti “keringnya mulut akibat haus dan dahaga” (Yusuf Burhanudin, 2007: 03).

Melihat makna Ramadhan dari sudut pandang bahasa di atas, ada makna simbolis-filosofis yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an seringkali menggambarkan manusia yang berhati keras dengan menggunakan simbol batu. Hati yang tidak memiliki ruh petunjuk dan kepekaan terhadap orang lain, al-Qur’an mengumpamakan seperti batu keras. Seperti firman Allah SAW., yang artinya :

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 74)

Dalam bulan Ramadhan, hati manusia yang keras bagaikan batu dapat terobati. Hati yang kaku dan keras terhadap orang lain dan lingkungannya dapat berubah seketika jika ia mau menerima bulan Ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap ridha-Nya. Ibarat batu keras yang selalu tersentuh panas yang membakar, ia akan berubah membentuk suatu daya kekuatan yang hidup dan dinamis kerana kekuatan panas yang dimilikinya. Ketika sengatan panas membakar batu keras tanpa henti, maka akan menghasilkan gerak dan daya dorong yang luar biasa, sehingga batu itu memanas dan berfungsi mendidihkan air yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Begitu kira-kira perumpamaan hidup berkah di bulan Ramadhan, dilihat dari segi akar katanya. Dengan demikian, berkah Ramadhan dapat membentuk kepribadian manusia dan bermental tangguh. Ramadhan dengan keberkahannya menebarkan pendidikan rohani, sehingga hati yang keras dan kaku menjadi lentur, dan yang lemah menjadi berbinar memancarkan sinar cahaya terang.

Kehadiran Ramadhan berfungsi sebagai pendidikan olah rohani yang dapat menggerakkan dan meneguhkan hati dan pikiran. Di sinilah akan terlihat kekuatan rohani yang terbentuk dari diri dalam manusia seseorang. Ruh Ramadhan adalah membentuk hati penuh kemulyaan dan cahaya. Sinar cahaya Ramadhan yang memancar tercermin dalam diri dan tersemat di dalam hati seseorang, sehingga suasana sempit menjadi lapang, susah menjadi senang, putus asa menjadi berbesar hati. Semua itu tercermin dalam sikap dan tindakan keseharian apabila makna Ramadhan dapat dihayati dengan baik dan dengan hati yang jernih.

Menyelami Hikmah Ramadhan

Ramadhan di samping sebagai ladang dan tumbuh suburnya amal kebaikan, juga mengandung pendidikan olah rohani dan terselip hikmah yang cukup melimpah. Ramadhan dengan amaliah puasa, sekilas seolah menyiksa diri secara fisik dan terasa beban berat, tentu hal itu terjadi karena para pelaku puasa tidak mengenal dan menyelami hikmah yang terkandung di dalamnya.

Dilihat dari segi fungsinya, puasa memiliki sasaran dua dimensi; pertama, membina hubungan dengan Allah SWT. (hablun mina Allah). Di sini puasa disamping secara fisik harus menahan lapar dan dahaga, kita diajarkan untuk untuk meneladani sifat-sifat Allah yang terpancar dan terhayati dalam gerak langkah kehidupan (M. Quraish Shihab, 1996: 532-533). Tujuan penghayatan dan peneladanan terhadap sifat-sifat Allah adalah upaya pelatihan diri untuk menghadirkan Allah dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan ibadah puasa apabila dijalani dengan benar maka secara simultan akan melatih dan mengajarkan kita untuk bergerak dari keadaan yang kurang baik ke keadaan yang lebih baik (Muhammad Rusli Malik, 2003: 14). Di dalam berpuasa, hati kita tergerak secara vertikal dari nafs ammarah (jiwa yang rendah, keras dan cenderung emosional), ke nafs lawwamah (jiwa yang labil) lalu ke nafs marhamah, (jiwa yang penuh kasih sayang) hingga ke posisi puncak yaitu: nafs muthmainnah (jiwa yang tenang, tangguh dan kokoh).

Di sinilah ada suatu jawaban, mengapa Ramadhan bagitu sangat “diistimewakan” dan “disucikan”, karena ia memang berfungsi sebagai pencerah hati yang mengandung unsur pendidikan rohani yang bergerak secara vertikal melalui peneladanan terhadap sifat-sifat-Nya. Sabda hadist Nabi berikut adalah menjadi landasan penting bahwa puasa memiliki daya gerak vertikal-transendental sebagai jalan menuju derajat muttaqin yang secara spesial berkontak langsung dengan Allah SAW. Hadist tersebut artinaya yaitu:

Artinya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Seluruh amal perbuatan anak Adam akan dilipatkan pahalanya. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan bahkan dapat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: "Kecuali puasa, ia itu khusus bagi-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya secara langsung. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya semata-mata karena-Ku. Orang yang berpuasa itu akan memperoleh dua kebahagiaan: Kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya kelak. Bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah, lebih wangi dari pada wanginya minyak kasturi" (HR. Muslim).

Sasaran puasa yang kedua adalah membangun kekuatan dan empati sosial (hablun mina al-Nas). Prinsip terpenting di dalam agama Islam, bagaimana membangun keseimbangan mental rohani yang termanifestasi dalam gerak dan langkah kehidupan sosial. Hubungan kemanusiaan dalam jejaring sosial diikat oleh rasa empati, sehinga puasa mampu mengasah kepekaan (sensitifitas) sosial yang tinggi yang dapat menjembatani jurang pamisah antara orang kaya dan orang miskin.

Rasa empati yang tertanam dalam diri seseorang sebagai buah dari puasa, melekat di dalam diri setiap orang dan selalu hadir dalam gerak dan ritme kehidupan sosial. Wujud konkritnya adalah tumbuhnya rasa kasih dan sayang bagi orang kaya untuk merasakan dan mengalami penderitaan orang miskin, sehingga terjalin hubungan saling mangasihi dan tergerak hatinya untuk menopang kehidupan dan penderitaan yang mereka rasakan.

Ketika rasa empati sosial sudah terasah dan pembentukan bina rohani telah memancarkan sinar kepekaan batin, maka secara pelan-pelan akan muncul suatu sikap kebiasaan yang mampu mengalahkan kekuatan “ego” yang cenderung menjadi hasrat dominatif dalam diri manusia (Suara Muhammadiyah, 2010 : edisi 15). Membiasakan dan upaya mengalahkan “ego” dan kepentingan “aku” dapat dijembatani dan terkendali, sehingga puasa dapat membentuk kepatuhan dan kesadaran diri untuk mendahulukan kepentingan sosial yang dilandasi kekuatan cahaya batin, penuh ketulusan dan keikhlasan. Semoga bermanfaat.

0 komentar: