Friday, 8 November 2013

Hijrah


 Kontekstualisasi Hijrah


 Berbicara tentang hijrah diingatkan pada sebuah peristiwa Agung yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu  berpindahnya beliau dari Makkah ke Madinah, sesuai dengan perintah Allah untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun,  dalam kehidupan kekinian kata hijrah harus dimaknai ulang dan dikontekstualisasi agar lebih fungsional dan mengakar dalam kehidupan manusia. Hijrah dalam era kekinian dapat dipahami sebagai bentuk transformasi di seluruh lapisan masyarakat. 
Karena ada proses transformasi maka hijrah tidak saja dipahami perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi pemaknaannya tidak semata-mata diukur dengan jarak misalnya, antara Makkah-Madinah, lebih dari itu,  hijrah   adalah perpindahan dinamis yang mengandaikan adanya kesadaran untuk meninggalkan perilaku tercela menuju perilaku yang utama.
Peristiwa hijrah menurut Mahfud MD adalah upaya memilih strategi untuk melakukan perlawanan politik terhadap perpolitikan kaum jahiliyah yang zalim dan tidak adil. Sehingga dalam konteks sekarang, jika kita hendak mengambil hikmah dari hijrah secara politik, maka kita harus melawan segala bentuk ketidakadilan dan kesombongan kekuasaan. 
Sedang Cendekiawan Muslim, Prof. Azyumardi Azra berpendapat bahwa hijrah semestinya menjadi momentum umat Islam untuk memperkuat tekad hijrah dari sikap hidup yang koruptif ke hidup dengan integritas yang bebas dari berbagai bentuk kemaksiatan. Kasus yang kian marak saat ini seperti korupsi, miras dan narkoba, seharusnya menjadi pembelajaran kedepan agar perjalanan umat Islam Indonesia sebagai bangsa semakin lebih baik.
Dalam konteks kebangsaan umat Islam harus meningkatkan kualitas Iman, Islam dan Ihsan guna mengaktualisasikan kesalehan personal menjadi kesalehan sosial. Hanya dengan begitu umat Islam dapat mewujudkan Islam sebagai  rahmatan lil 'alamin. Hilangnya kesalehan sebagian umat Islam saat ini, telah dipicu sebagian umat hanya saleh secara personal. 
Rajin melakukan macam-macam  ibadah, tapi itu hanya berlaku di masjid. Ketika  di luar itu, sikap mereka tidak saleh, tidak takut pada Allah dengan melakukan korupsi dan maksiat-maksiat lain. Seharusnya menjadi Islam tidak hanya di masjid, tapi juga di pasar, di kantor, di jalan raya dan sebagainya. Di sinilah hijrah menemukan momentum yang cukup baik untuk diambil hikmah sebagai pijakan dasar melakukan perbaikan diri, menumbuhkan integritas bangsa, dan mengembangkan perilaku utama agar muncul budaya santun, teratur, adil, sejahtera dan makmur.

Sunday, 27 October 2013

Generasi Unggul

Menyiapkan Generasi Unggul
Berkesadaran Global

Muhammad Zaini

Negara ini membutuhkan stok calon-calon generasi unggul sebagai penyangga masa depan bangsa. Tanpa kesadaran untuk menjadi generasi unggul yang berkarakter, bangsa ini akan jauh dari harapan yang dicita-citakan al-Qur’an sebagai negara yang Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghafur. Dunia persekolahan adalah wadah yang mampu melahirkan generasi unggul yang berkualitas, berbudi luhur, dan bersandar pada nilai-nilai universal Islam.
Generasi unggul adalah sebuah istilah yang semakna dengan khairu ummah sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ali Imran/3:10. Khoiru ummah merupakan cita dan idealisme al-Qur’an yang mengemban tugas menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam perjalanan sejarah dan dinamika problem keummatan, generasi unggul sebagai direvasi dari konsep khairu ummah harus selalu hadir dalam konteks kehidupan umat seiring perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi yang menjadi tuntutan dunia global.
Pendidikan sebagai gudang lahirnya generasi-generasi unggul harus mampu mendorong peserta didik memiliki kesadaran global di satu sisi, dan kesadaran local wisdom di sisi lain. Kesadaran global adalah upaya menangkap gerak kemajuan yang begitu cepat agar umat Islam berhasil mencapai puncak peradaban dunia sebagaimana pada periode awal. Di sini, penting bahwa pendidikan harus membangun kemitraan dengan dunia internasional untuk mengadopsi dan memodifikasi hal-hal yang bernilai positif.
Kesadaran local wisdom adalah upaya mempertahankan budaya-budaya lokal dan tradisi-tradisi yang menjadi cirikhas utama masyarakat setempat. Sehingga generasi unggul produk bangsa ini tidak tercerabut dari akar lokal dan tetap bernafaskan nilai-nilai Islam yang memiliki integritas keimanan, komitmen berkontribusi positif kepada kemanusiaan secara universal dan loyalitas pada kebenaran dengan aksi amar ma’ruf nahi munkar.
Paling tidak terbentuk sebuah mindset dan kesadaran baru bahwa dunia sekarang ini sudah berada dalam kendali dunia Google yang dapat menyuguhkan apa saja sesuai keinginan masyarakat. Era virtual dan kebebasan ilmu, informasi, teknologi dan wawasan global kini sudah menjadi konsumsi setiap orang yang tidak pandang usia dan letak geografis. Dalam hal ini, dunia tidak lagi melingkar seperti bola dunia yang berada pada titik poros vertikal, tetapi dalam era informasi yang serba terbuka, dunia melintang secara horizontal tidak mengenal batas ruang dan waktu (world is flat). Tentu saja sudah menjadi kebutuhan semua yang mengambil peran di dalam dunia pendidikan (guru, stakholder) untuk ikut serta dalam menyiapkan generasi penerus yang tidak saja cerdas, tetapi juga mempunyai keunggulan pribadi (personal excellence), berkarakter, berwawasan luas dan bermental global.


Empat Pilar

Empat Pilar Pribadi Utama
Muhammad Zaini

Laju kemajuan zaman kehadirannya tidak bisa terbendung. Perubahan terjadi setiap detik berpacu dengan garis edar waktu. Hal ini juga menuntut manusia untuk berpikir dan mengambil tindakan cepat atas segala ikhtiyar yang dilakukannya. Sukses dan gagal sangat ditentukan oleh kecepatan berpikir dan kesediaan diri untuk mengambil resiko. Memilih sukses berarti mananggung banyak variable resiko yang sangat tinggi. Sedangkan memilih gagal adalah berbanding lurus dengan resiko-resiko kecil yang hidupnya lebih nyaman, linier dan tidak ada tantangan.
Hidup di era globalisasi adalah sarat dengan resiko tinggi, karena harus berpikir dan bertindak cepat. Beberapa ciri khas globalisasi yang tidak bisa ditolak yaitu, pertama, perubahan yang begitu cepat dalam ruang dan waktu. Kedua, kesalingtergantungan satu negara dengan negara yang lain dalam gelombang globalisasi. Ketiga, interaksi dan penetrasi antar budaya melalui media masa dan dunia virtual yang semakin meningkat. Ketiga ciri khas tersebut menjadi suguhan utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada alasan apapun untuk menolak kehadirannya, kecuali mengambil peran mempersiapkan diri memiliki wawasan dan pengetahuan luas, sehingga dapat berproses menjadi pemeran utama di tengah kehidupan yang penuh kompetitif, baik dalam persaingan pasar bebas maupun dalam dunia pendidikan.
Tatanan global sungguh telah menjadi penopang utama bagi kamajuan peradaban dunia yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi, transportasi, dan informasi. Jika generasi sekarang ini tidak mampu menjadi pemeran utama pada setiap lini ranah global, maka mereka akan kehilangan keseimbangan kekuatan (balance of power) dalam meraih prestasi-prestasi unggul yang kompetitif (competitive advantage), yaitu kecenderungan pada sesuatu yang bersifat instan mekanistik, dan efisien tanpa menghargai nilai-nilai dan norma yang dianggap tidak efisien dan instan. Sebaliknya, jika nilai-nilai dan norma tidak diimbangi dengan kesadaran dan semangat hidup berkemajuan, maka ia akan stagnan dan tidak memiliki akar kuat yang menghujam yang bisa memberikan pancaran agen perubahan (agent of change) bagi kehidupun masyarakat di masa depan.
Dalam dunia global bisa jadi mereka hanya melihat kemajuan dari satu arah tanpa melihat arah lainnya yaitu, sebuah upaya menyeimbangi dengan nilai-nilai  dan norma Islam. Nilai-nilai tersebut bisa kita temukan dari sifat-sifat Nabi yang kini dikembangkan menjadi prophetic leadership (baca: Ensiklopeida Prolm Prophetic Leadership & Management Wisdom) oleh Muhammad Syafii Antonio, yang sesungguhnya juga sejalan dengan karakteristik globalisasi.
 Pertama, sifat shiddiq (personal excellence). Dalam sifat ini sebenarnya terdapat banyak variable karakter yang menjadi keteladanan Nabi yang secara prinsip juga dibutuhkan oleh generasi yang hidup di era global, yaitu kejujuran (honest), berpikir damai (peace mind), kesabaran (patience), konsisten (istiqomah).
Kedua, sifat amanah (inter-personal capital). Membangun networking dapat terjalin jika antar pribadi di dalam suatu komunitas memiliki keunggulan atau modal interaksi antar personal (inter-personal capital) yang baik. Di sini adalah terlihat dengan sempurna karakter amanah, yang hanya akan muncul dan tampak pada saat proses interaksi-interaksi dengan orang lain. Unsur-unsur pembentuk amanah meliputi antara lain; memenuhi janji (fulfilling commitment), tahan uji (reliability), keterbukaan (tranparency), kemandirian (independency), bertanggungjawab (accountability), dan lain-lain.
Ketiga, fathanah. Sifat ini adalah sebuah kecerdasaan yang dimiliki oleh Nabi yang tidak saja dalam ranah kognitif, tetapi muncul dalam berbagai bentuk. Antara lain, berwawasan luas (knowledgeable), berorientasi belajar (learning oriented), fokus pada kualitas (quality focus), strategis dan bijaksana (strategic and tactful), kesadaran waktu (time consciousness), evaluasi dan perbaikan/kemajuan yang berkesinambungan (evaluation and continuous improvement). Sifat fathanah dengan ragam bentuk yang muncul dari sosok seorang Nabi jika diteladani akan melahirkan manusia yang profesional dan memiliki kompetensi teknis yang tinggi. Keunggulan ini sangat berguna bagi kehidupan manusia di era global.
Keempat, tabligh. Sifat ini adalah sebuah kompetensi yang dimiliki oleh Nabi dalam bentuk mengomunikasikan sesuatu dengan efektif. Sebagai direvasi dari sifat tabligh adalah kemampuan berkomunikasi dengan baik yang diwujudkan dalam bentuk nilai-nilai antara lain; missi bersama (shared mission), terdepan dalam teladan (leading example), memotivasi dan memberi isnpirasi (motivating and inspiring), peduli dan rasa kasih sayang (care and compassionate). Dalam tugas-tugas tabligh, beliau adalah sosok yang sangat dikenal sebagai seorang komunikator yang baik, sehingga mudah diterima oleh semua kalangan manapun.
Dalam era globalisasi sifat tabligh dapat diaktualisasi dalam bentuk good communication yang sekaligus harus bersanding dengan sifat amanah yang tidak saja menempa menjadi orang yang bertanggungjawab, lebih dari itu sifat amanah harus termanifestasi dalam bentuk ketahanan uji dan kemandirian. Begitu juga sifat shiddiq, tidak dapat dimaknai tunggal secara literal sekadar kejujuran, tetapi ia menuntut seseorang memiliki mindset yang berkemajuan dan open mind, sehingga mampu berpikir jernih, damai dan berjiwa sabar atas segala kompleksitas kehidupan di era global. Sedangkan fathanah adalah prasyarat penting dalam kehidupan global yang memerlukan kompetensi teknis dan profesionalisme tinggi yang harus dijaga terus menerus secara berkesinambungan.  


Karena itu, empat sifat Nabi di atas seharusnya menjadi pilar yang terinternalisasi sebagai sistem nilai dalam kehidupan agar tidak terbawa arus dinamika globalisasi yang cenderung bebas nilai. Lebih jauh, empat pilar sifat Nabi tersebut menjadi tawaran prinsip etika atas sistem nilai bagi tumbuh kembangnya peradaban utama di tengah pusaran globalisasi. Inilah seperangkat nilai yang perlu dipahami oleh para guru, pendidik, pelajar, stakeholder pendidikan agar melahirkan kesadaran global yang dijiwai oleh seperangkat nilai-nilai profetik.

Saturday, 23 April 2011

Profesionalisme

MENEGUHKAN KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU
(Sinergitas antara Mengajar dan Mendidik)
Oleh: Muhammad Zaini
Mendidik dan mengajar adalah dua entitas yang berbeda satu sama lain. Tetapi dalam praktik nyata, keduanya sulit dibedakan, dan tidak bisa dipisahkan secara diametral. Seringkali guru kehilangan kesadaran untuk melakukan praktik keduanya secara seimbang (balanced). Salah satu faktor ketidakseimbangan antara ranah mengajar di satu sisi, dan ranah mendidik di sisi lain adalah karena keduanya terkadang dipahami sebagai sesuatu yang identik.
Ekuilibrium antara Tugas Mengajar dan Mendidik
Secara umum mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh peserta didik. Tugas mengajar dalam pemahaman ini bisa dikatakan berhasil apabila peserta didik benar-benar mampu menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru secara terukur yang dapat dibuktikan dalam bentuk hasil evaluasi. Dalam konteks ini, target utama tugas formal pengajaran adalah menunjukkan kompetensi peserta didik yang hanya diukur dari sisi “pintar”-nya (kognitif) saja.
Bagaimana dengan tugas mendidik? Mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar. Memang, tidak bisa disangkal bahwa proses mendidik salah satunya dapat dilakukan dengan cara mengajar secara formal. Namun demikian, proses-proses formal pengajaran di dalam kelas tidak dapat dikatakan selalu mencerminkan proses ke arah mendidik. Kerana, dalam mendidik melibatkan banyak komponen yang terrepresentasi dalam wujud keteladanan (exemplary) seorang guru sebagai faktor penting, sehingga ia harus manjadi sumber panutan (source of model) yang dapat digugu dan ditiru. Guru lihai dalam mengajar, tetapi bisa jadi buta akan arti sebuah keteladanan.
Dalam tugas mengajar, boleh jadi guru dapat menunaikannya penuh piawai dengan berbagai ragam metode yang dimiliki. Tetapi adakah korelasi dengan kemampuan memberikan keteladanan berupa penanaman nilai-nilai kejujuran, amanah, tepat waktu, kerja keras, taat kepada orang tua, etos kerja, taat kepada sistem dan peraturan, berperilaku sehat, senang menolong, pandai bersyukur, mandiri, senang beribadah dan lain-lain. Dalam ranah psikologi nilai-nilai tersebut adalah bagian dari proses afektif yang harus digali sebagai kompetensi pengembangan sikap dan perilaku.
Bagaimanapun harus diakui bahwa peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas tidak saja sekadar dipahami mampu berinteraksi melakukan upaya penerimaan dan transfer pengetahuan (transfer of knowladge). Peserta didik di dalam menyerap pengetahuan, tentu tidak bisa lepas dari proses transfer of imitation yang diekspresikan guru dalam bentuk sikap, prilaku, dan tindakan. Masih segar di dalam ingatan kita tentang adagium klasik “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika dicermati dengan baik dan seksama adagium tersebut mengandung makna cukup mendalam yang berarti bagaimana seorang guru harus mengiramakan antara kata dan laku secara seimbang dan padu.
Dengan demikikan, dalam praktik proses belajar mengajar peserta didik memiliki potensi menangkap secara simultan antara pengetahuan yang disampaikan oleh guru sebagai teaching competence di satu sisi, dan tindakan dan perilaku sebagai behavioral competence bagi guru di sisi lain. Disadari atau tidak, hal-hal yang berkaitan dengan kata, sikap dan perilaku guru sesungguhnya secara intrinsik terserap dalam bawah sadar mereka, yang kemudian secara integral terejewantah dan terinternalisasi dalam prilaku sehari-hari. Model pendidikan semacam inilah yang menjadi semangat profetik risalah kenabian Muhammad SAW., yaitu kesatuan antara ucapan, kata dan perbuatan, yang keduanya berjalan seimbang berada dalam realitas riil yang dapat dicontoh dan diserap oleh segenap peserta didik sebagai wujud keteladanan.
Menumbuhkan Kreatifitas Peserta Didik yang Berkarakter
Paradigma pembelajaran berbeda dari paradigma pendidikan. Suatu hal yang diperlukan dalam unsur “mendidik”, berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral keagamaan adalah kemampuan guru untuk menyentuh dan menyapa keseluruhan dan keutuhan pribadi peserta didik. Upaya ini diwujudkan sebagai salah satu jalan bagi guru untuk mewujudkan dan menumbuhkan kesadaran keteladanan kepada segenap peserta didik. Dengan begitu, semestinya paradigma pendidikan seharusnya lebih tajam diarahkan pada rangsangan untuk melahirkan suatu “kehendak/keinginan” dan “motivasi” pada diri peserta didik dan bukan semata-mata penajaman pada sisi intelektualitas.
Dalam kaitan ini, untuk mengimbangi proses belajar-mengajar dan mendidik yang perlu dipahami terlebih dahulu oleh para pendidik adalah struktur kepribadian peserta didik. Pengenalan dan pemahaman terhadap struktur kepribadian peserta didik diperlukan untuk melakukan proses penyelaman terhadap kejiwaan mereka agar dapat lebih mudah mananamkan nilai-nilai yang dapat membentuk suatu perilaku. Berbagai potensi yang melekat pada struktur kepribadian mereka perlu disentuh dan digerakkan secara menyuluruh yang meliputi antara lain emosi, rasio, imajinasi, memori, kehendak, motivasi, dan kecenderungan-kecenderungan.
Keberhasilan menyentuh seluruh komponen tersebut di atas sebagai salah satu indikator keberhasilan proses mendidik yang akan melahirkan satu motivasi dan kehendak pada diri peserta didik untuk berbuat apa saja sesuai dengan bakat dan prestasi masing-masing. Tergeraknya seluruh komponen struktur tubuh yang terdapat di dalam diri peserta didik dimungkinkan mengarah pada satu pilihan yang dihiasi oleh dorongan hati nurani yang tampak ke permukaan dalam bentuk perilaku lahiriyah, berupa ragam kreatifitas yang secara bertahap tumbuh dan berkembang jenis keterampilan yang terkuak dari dalam diri peserta didik.
Jadi, mengajar dan sekaligus mendidik dapat melahirkan perilaku lahiriyah yang santun, berwawasan pengetahuan dan keterampilan, baik dalam bentuk ekspresi wajah atau raut muka (senyum, peduli, ramah), gerak-gerik, tutur bicara yang santun dan dorongan untuk selalu berkreasi. Di sinilah akan tercipta suatu bentuk kreatifitas bagi diri peserta didik dengan memiliki keteguhan mentalitas dan kepribadian yang berkarakter.
Namun demikian, guru tidak bisa lepas dari tugas kewajiban mengajar secara formal misalnya, guru harus memenuhi beberapa standar yang meliputi: (1) penyusunan rencana pembelajaran, (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, (3) penilaian prestasi belajar peserta didik, (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, (5) pengembangan profesi, (6) pemahaman wawasan kependidikan, dan (7) penguasaan bahan kajian akademik (sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan). Paling tidak, komponen-komponen tersebut manjadi standar ideal-formal bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang harus dipahami sebagai standar proses kinerja secara profesional.
Karena itu, tugas guru sebagai pengajar dan pendidik harus melekat secara kombinatif sebagai satu kesatuan kompetensi dan profesionalisme guru. Menjadi guru walaupun tidak bisa tampil sebagai sosok manusia sempurna, tetapi secara sistem ia dituntut untuk menjadi sumber pengetahuan yang mampu memecahkan permasalahan peserta didik yang tidak saja berkaitan dengan proses pembelajaran. Tetapi, kompetensi guru juga merupakan kombinasi kompleks dari pengetahuan, sikap, keteladanan, keterampilan, dan nilai-nilai yang harus ditunjukkan oleh guru dalam sistem kerja dan tugas kepengajaran. Dalam praktik nyata, guru harus mampu menyelami kejiwaan peserta didik yang menyatu dalam kehidupan mereka sehari-hari di lingkungan sekolah.

Thursday, 19 August 2010

Menyingkap Makna Ramadhan

Menyingkap Makna dan Hikmah Ramadhan

Oleh: Muhammad Zaini

Tidak terasa Ramadhan kembali tiba. Momentum penuh berkah yang tidak semua orang dapat menemuinya dengan penuh gembira dan menangkap maknanya. Keberkahan dan hikmah yang tersirat di dalamnya begitu melimpah ruah. Semua umat Islam, kaya dan miskin bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Beberapa Masjid dapat terlaksana berbagai ragam kegiatan ritual keagamaan, penuh sambutan hangat umat Islam dan antusias. Itu semua hanya dapat dijumpai dan terlihat pada bulan Ramadhan.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat Ramadhan begitu semarak dan bahkan sebagai ladang dan lahan subur tumbuhnya benih kebaikan dan keberkahan. Ia begitu “diistimewakan” dan “disucikan”. Apa yang bisa kita petik dari hikmah Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan dan Maknanya

Ditilik dari segi bahasa, Ramadhan dalam kamus bahasa Arab (lihat: kamus al-Munawwir) berasal dari bahasa Arab al-Ramadh yang artinya “panas batu akibat sinar matahari”. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan diambil dari akar kata ramidha yang berarti “keringnya mulut akibat haus dan dahaga” (Yusuf Burhanudin, 2007: 03).

Melihat makna Ramadhan dari sudut pandang bahasa di atas, ada makna simbolis-filosofis yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an seringkali menggambarkan manusia yang berhati keras dengan menggunakan simbol batu. Hati yang tidak memiliki ruh petunjuk dan kepekaan terhadap orang lain, al-Qur’an mengumpamakan seperti batu keras. Seperti firman Allah SAW., yang artinya :

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 74)

Dalam bulan Ramadhan, hati manusia yang keras bagaikan batu dapat terobati. Hati yang kaku dan keras terhadap orang lain dan lingkungannya dapat berubah seketika jika ia mau menerima bulan Ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap ridha-Nya. Ibarat batu keras yang selalu tersentuh panas yang membakar, ia akan berubah membentuk suatu daya kekuatan yang hidup dan dinamis kerana kekuatan panas yang dimilikinya. Ketika sengatan panas membakar batu keras tanpa henti, maka akan menghasilkan gerak dan daya dorong yang luar biasa, sehingga batu itu memanas dan berfungsi mendidihkan air yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Begitu kira-kira perumpamaan hidup berkah di bulan Ramadhan, dilihat dari segi akar katanya. Dengan demikian, berkah Ramadhan dapat membentuk kepribadian manusia dan bermental tangguh. Ramadhan dengan keberkahannya menebarkan pendidikan rohani, sehingga hati yang keras dan kaku menjadi lentur, dan yang lemah menjadi berbinar memancarkan sinar cahaya terang.

Kehadiran Ramadhan berfungsi sebagai pendidikan olah rohani yang dapat menggerakkan dan meneguhkan hati dan pikiran. Di sinilah akan terlihat kekuatan rohani yang terbentuk dari diri dalam manusia seseorang. Ruh Ramadhan adalah membentuk hati penuh kemulyaan dan cahaya. Sinar cahaya Ramadhan yang memancar tercermin dalam diri dan tersemat di dalam hati seseorang, sehingga suasana sempit menjadi lapang, susah menjadi senang, putus asa menjadi berbesar hati. Semua itu tercermin dalam sikap dan tindakan keseharian apabila makna Ramadhan dapat dihayati dengan baik dan dengan hati yang jernih.

Menyelami Hikmah Ramadhan

Ramadhan di samping sebagai ladang dan tumbuh suburnya amal kebaikan, juga mengandung pendidikan olah rohani dan terselip hikmah yang cukup melimpah. Ramadhan dengan amaliah puasa, sekilas seolah menyiksa diri secara fisik dan terasa beban berat, tentu hal itu terjadi karena para pelaku puasa tidak mengenal dan menyelami hikmah yang terkandung di dalamnya.

Dilihat dari segi fungsinya, puasa memiliki sasaran dua dimensi; pertama, membina hubungan dengan Allah SWT. (hablun mina Allah). Di sini puasa disamping secara fisik harus menahan lapar dan dahaga, kita diajarkan untuk untuk meneladani sifat-sifat Allah yang terpancar dan terhayati dalam gerak langkah kehidupan (M. Quraish Shihab, 1996: 532-533). Tujuan penghayatan dan peneladanan terhadap sifat-sifat Allah adalah upaya pelatihan diri untuk menghadirkan Allah dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan ibadah puasa apabila dijalani dengan benar maka secara simultan akan melatih dan mengajarkan kita untuk bergerak dari keadaan yang kurang baik ke keadaan yang lebih baik (Muhammad Rusli Malik, 2003: 14). Di dalam berpuasa, hati kita tergerak secara vertikal dari nafs ammarah (jiwa yang rendah, keras dan cenderung emosional), ke nafs lawwamah (jiwa yang labil) lalu ke nafs marhamah, (jiwa yang penuh kasih sayang) hingga ke posisi puncak yaitu: nafs muthmainnah (jiwa yang tenang, tangguh dan kokoh).

Di sinilah ada suatu jawaban, mengapa Ramadhan bagitu sangat “diistimewakan” dan “disucikan”, karena ia memang berfungsi sebagai pencerah hati yang mengandung unsur pendidikan rohani yang bergerak secara vertikal melalui peneladanan terhadap sifat-sifat-Nya. Sabda hadist Nabi berikut adalah menjadi landasan penting bahwa puasa memiliki daya gerak vertikal-transendental sebagai jalan menuju derajat muttaqin yang secara spesial berkontak langsung dengan Allah SAW. Hadist tersebut artinaya yaitu:

Artinya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Seluruh amal perbuatan anak Adam akan dilipatkan pahalanya. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan bahkan dapat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: "Kecuali puasa, ia itu khusus bagi-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya secara langsung. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya semata-mata karena-Ku. Orang yang berpuasa itu akan memperoleh dua kebahagiaan: Kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya kelak. Bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah, lebih wangi dari pada wanginya minyak kasturi" (HR. Muslim).

Sasaran puasa yang kedua adalah membangun kekuatan dan empati sosial (hablun mina al-Nas). Prinsip terpenting di dalam agama Islam, bagaimana membangun keseimbangan mental rohani yang termanifestasi dalam gerak dan langkah kehidupan sosial. Hubungan kemanusiaan dalam jejaring sosial diikat oleh rasa empati, sehinga puasa mampu mengasah kepekaan (sensitifitas) sosial yang tinggi yang dapat menjembatani jurang pamisah antara orang kaya dan orang miskin.

Rasa empati yang tertanam dalam diri seseorang sebagai buah dari puasa, melekat di dalam diri setiap orang dan selalu hadir dalam gerak dan ritme kehidupan sosial. Wujud konkritnya adalah tumbuhnya rasa kasih dan sayang bagi orang kaya untuk merasakan dan mengalami penderitaan orang miskin, sehingga terjalin hubungan saling mangasihi dan tergerak hatinya untuk menopang kehidupan dan penderitaan yang mereka rasakan.

Ketika rasa empati sosial sudah terasah dan pembentukan bina rohani telah memancarkan sinar kepekaan batin, maka secara pelan-pelan akan muncul suatu sikap kebiasaan yang mampu mengalahkan kekuatan “ego” yang cenderung menjadi hasrat dominatif dalam diri manusia (Suara Muhammadiyah, 2010 : edisi 15). Membiasakan dan upaya mengalahkan “ego” dan kepentingan “aku” dapat dijembatani dan terkendali, sehingga puasa dapat membentuk kepatuhan dan kesadaran diri untuk mendahulukan kepentingan sosial yang dilandasi kekuatan cahaya batin, penuh ketulusan dan keikhlasan. Semoga bermanfaat.